STUDI ISLAM INTERDISIPLINER
DI ERA DISRUPSI DAN MILENIAL
PENI NUR HIDAYATI (12020170020)
PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA
A. Pendahuluan
Islam merupakan
agama terakhir sebagai
penutup agama Allah yang
telah ada, islam merupakan
agama rahmatal lil a’lamin untuk semua umat. Untuk mengetahui
islam lebih mendalam
maka muncullah ilmu yang dinamakan
Studi Islam akan
tetapi Studi Islam
itu sendiri merupakan bidang kajian yang cukup lama. Ia
telah ada bersama dengan adanya agama islam maka dari
itu Studi Islam menimbulkan
berbagai permasalahan yang umum, diantaranya: apa pengertian Studi
Islam, apa ruang lingkup, atau objek Studi
Islam, apa tujuan Studi Islam, bagaimana pendekatan, metodologi dalam Studi Islam, dan lain-lain.
Seiring dinamika
dan perkembangan zaman,
kesempatan untuk mempelajari
Studi Islam dapat melalui segala hal, berkaitan dengan persoalan tentang
mempelajari Studi Islam, islam memberikan kesempatan secara luas kepada manusia
untuk menggunakan akal pikirannya secara maksimal untuk mempelajarinya, namun
jangan sampai penggunaannya melampaui batas dan keluar dari rambu-rambu ajaran
Allah SWT. Oleh karena itu, islam sebagai ajaran menjadi sebuah topik yang
menarik untuk dikaji baik
dari kalangan intelektual
muslim sendiri maupun
intelektual barat, mulai tradisi orientalis sampai pada liberalis.
Pengetahuan
Islam juga harus dibuat dalam bentuk norma agar dapat diterima secara
universal. Karena semua epistemologis berasal dari konsep yang universal, maka
mengandung nilai yang berlaku selamanya, dan menyangkut seluruh umat manusia.
Pengetahuan islam, yang tidak dapat diaplikasikan pada kehidupan sosial
manusia, yang tidak bermanfaat bagi dan tidak dapat di-sharing kepada pihak non-muslim, tidak bisa diberi label islam.[1]
Perkembangan
ilmu pengetahuan pada akhirnya menuntut para penggiat dunia akademis untuk
terus melakukan perbaikan-perbaikan dan perubahan-perubahan dalam rangkan
menyesuaiakan diri diera yang terus berkembang ini. Begitupun dalam bidang
studi Islam, para akademisi studi Islam harus mampu menempatkan dirinya dalam
rangka menghadapi perkembangan zaman yang terus mengalami perubahan dengan
permasalahan-permasalahan yang semakin kompleks. Dalam rangka menjawab
persoalan-persoalan tersebut, kajian studi Islam interdisipliner dipandang
perlu dan menjadi hal yang sangat dibutuhkan untuk menjawab persoalan-persoalan
yang terus berkembang ini.
Persentuhan
Islam dengan dinamika kehidupan masyarakat dalam berbagai lapisan dan
dinamikanya serta gerak progresif perubahan zaman telah membawa Islam untuk dan
dipaksa terlibat dengan berbagai isu kontemporer dinamika kehidupan, yang
sangat boleh jadi, tidak terjadi dan karenanya tidak dikenal pada masyarakat
sebelumnya.[2]
Tekonologi
dengan kemajuannya semakin memudahkan hidup manusia. Banyak hal bisa terselesaikan dalam satu klik dengan smartphone.
Butuh informasi jalan, tinggal klik Waze atau Google map untuk jawabannya.
Memandu wisata-pun bisa dilakukan oleh google map dan penerjemah digital.
Bahkan kini tersedia OnTA (online travel assistant), aplikasi berisi informasi
destinasi wisata mulai dari pesawat, akomodasi, tempat layak dikunjungi, hingga
kuliner dan tempat belanja[3].
Teknologi digital telah mengubah tatanan hidup manusia, juga dalam pola
interaksi dengan jumlah interaksi tatap muka yang semakin minim. Apa yang bisa dilakukan oleh manusiapun
semakin terbatas. Mengumpulkan data, mengompilasinya hingga membentuk pola kini bisa dilakukan oleh
mesin belajar (learning machine), produk
kecerdasan buatan (artificial intellegence). Kecerdasan buatan ini
diantisipasi akan mampu menggantikan
manusia dalam mengambil keputusan yang kompleks. Mesin akan menggantikan peran
eksekutif yang umumnya butuh rapat panjang berhari-hari untuk tiba pada
keputusan kompleks ini.
Kajian
keislaman (Islamic studies)
merupakan suatu disiplin
ilmu yang membahas islam baik ajaran, kelembagaan,
sejarah maupun kehidupan umatnya. Dalam prosesnya, usaha
kajian itu mencerminkan
suatu transmisi doktrin-doktrin keagamaan dari generasi ke generasi,
dengan menjadikan tokoh-tokoh agama, mulai
dari Rasulullah sampai
dengan ustad dan
para dai sebagai
perantara sentral yang hidup.
Dari ustad maupun
guru kita dapat
mengetahui apa itu studi islam, baik pengertian, ruang
lingkup, obyek, pendekatan, metodologi. Untuk menjawab mengetahui lebih lanjut
mengenai urgensi studi islam interdisipliner di era disrupsi dan milenial, maka
penulis akan dibahas dalam paper ini.
B. Pengertian Studi Islam Interdisipliner
1. Studi Islam
Istilah
Studi Islam secara Etimologi (bahasa) merupakan gabungan dari dua kata yaitu
Studi dan Islam.
Dan kata studi
sendiri memiliki banyak
makna, diantaranya Studi
berasal dari bahasa
Inggris yaitu Study, yang berarti mempelajari atau
mengkaji. Dan menurut Lester
& Alice Crow menyebutkan bahwa
studi adalah kegiatan
yang secara sengaja
diusahakan dengan maksud untuk
memperoleh keterangan, mencapai
pemahaman yang lebih besar
atau meningkatkan suatu
keterampilan. Kemudian menurut Muhammad Hatta Studi
adalah mempelajari sesuatu
untuk mengerti kedudukan masalahnya,
mencari pengetahuan tentang
sesuatu dalam hubungan sebab
akibatnya, ditinjau dari jurusan tertentu dan dengan metode tertentu pula. Sedangkan Islam
berasal dari bahasa Arab,
yaitu kata salima dan
aslama. Salima mengandung arti
selamat, tunduk, dan
berserah.
Sedangkan
aslama juga mengandung arti
kepatuhan, ketundukan, dan berserah. Yang disebut dengan muslim
adalah orang yang tunduk, patuh, dan berserah
diri sepenuhnya kepada
ajaran Islam dan
akan selamat dunia
dan akhirat.[4]
Studi Islam (Islam Study) merupakan kajian yang penting dalam kehidupan
manusia. Dalam studi islam ini kita juga bukan hanya menjadi sebagai penonton
dan penikmat hasil dari sebuah kajian keislaman, tetapi kita juga berperan
sebagai pelaku dari perkembangan studi islam tersebut. Menurut
definisi, islam studi memiliki beberapa pengertian, diantarannya: Pertama,
studi tentang disiplin dan tradisi intelektual keagamaan klasik menjadi inti
dari studi islam, karena berada di jantung kebudayaan yang dipelajari dalam peradapan islam dan agama islam, karena
banyak muslim terpelajar yang masih memandangnya sebagai sebuah persoalan
penting. Kedua, Islamic studies adalah suatu bidang yang sempit, karena
upaya-upaya untuk memperluas bidang kajiannya dapat mengakibatkan berkurangnya
kualitas kajian. Ketiga, pendidikan berbasis keimanan bagi muslim
mengenai islam, dan studi lintas disiplin tentang islam yang bersandar kepada
ilmu-ilmu humaniora dan ilmu-ilmu sosial, keduannya memberikan tujuan yang
bermanfaat.[5]
Kajian
Islam Barat, Inggris misalnya, memberikan mahasiswa strata satu berbagai materi
yang relevan dengan islam dengan mempergunakan metodologi pengajaran yang
dilandaskan pada obyektivitas ditas. Pendekatan atas islam studi di sini sering
didasarkan atas pandangan akademik barat tentang islam yang terpusat pada
metodologi ilmiah seperti orientalisme, ilmu sosila atau antropologi
kontemporer. Sering dijumpai bahwa mahasiswa muslim disini akan menghadapi
tantangan nyata di mana pengetahuan dasar mereka tentang agama dan sejarhnya
sendiri diuji secara kritis. Sedangkan pada tingkat pascasarjana masalahnya
lebih kompleks dan seringkali ketidaksepakatran mengenai pendekatan pada apa
yang dapat dan tidak dapat mencapapi kebenaran membawa pada perubahan subjek
yang dikaji mahasiswa. [6]
Jadi
studi islam merupakan kajian yang penting dalam kehidupan manusia. Dalam studi
islam ini kita juga bukan hanya menjadi sebagai penonton dan penikmat hasil
dari sebuah kajian keislaman, tetapi kita juga berperan sebagai pelaku dari
perkembangan studi islam tersebut. Contohnya kajian islam barat memberikan
mahasiswa strata satu berbagai materi yang relevan dengan islam dengan
mempergunakan metodologi pengajaran yang dilandaskan pada obyektivitas ditas.
Pendekatan atas islam studi di sini sering didasarkan atas pandangan akademik
barat tentang islam yang terpusat pada metodologi ilmiah seperti orientalisme,
ilmu sosila atau antropologi kontemporer.
2. Interdisipliner
Ada tiga istilah yang hampir sama
dengan interdisipliner, yakni: interdisipliner, multidisipliner,
transdisipliner. Interdisipliner adalah kajian yang menggabungkan atau
melibatkan dua atau lebih disiplin atau bidang studi (combining or involving
two or more academic disciplines or field of study). Adapun pengertian
transdisciplinarity dalam Wikipedia berarti penelitian yg mengawinkan beberapa
batas disiplin untuk menciptakan pendekatan holistik. Batas disiplin yang
dilibatkan dalam transdisiplinary bisa dua atau lebih. Contoh yang ditulis
adalah dalam mengkaji bioinformatika yang sebelumnya hanya dilibatkan satu
disiplin kemudian ditambah beberapa disiplin lain seperti ethnography, sebuah
metode penelitian lapangan yang selama ini dikembangkan dalam antropologi. Maka
dengan pendekatan ini digunakan lebih luas oleh disiplin lain.[7]
Dalam bahasa metodologi, para
peneliti meminjam serangkaian disiplin termasuk ilmu-ilmu sosial. Kurang
tegasnya batasan-batasan ini justru menyediakan peluang untuk memperkaya studi interdisipliner
yang beragam.[8] Oleh
karenanya, dibutuhkan suatu pendekatan yang dapat mencakup studi Islam Pendekatan
interdisipliner (interdisciplinary approach).
Pendekatan
dalam pemecahan suatu masalah dengan menggunakan tinjauan berbagai sudut pandang ilmu serumpun yang
relevan secara terpadu. Ilmu yang relevan maksudnya ilmu-ilmu yang cocok
digunakan dalam pemecahansuatu masalah. Adapun istilah terpadu, yang dimaksud
yaitu ilmu-ilmu yang digunakan dalam pemecahan suatu masalah melalui pendekatan
ini terjalin satu sama lain secara tersirat(implicit)merupakan suatu kebulatan
atau kesatuan pembahasan atau uraian termasuk dalam setiap sub-sub uraiannya.
Ciri pokok atau kata kunci dari pendekatan indisipliner ini adalah
inter(terpadu antar ilmu dalam rumpun ilmu yang sama).[9]
Berdasarkan
penjelasan di atas, dapat kita ketahui bahwa pendekatan interdisipliner adalah
pendekatan yang menggabungkan atau melibatkan dua atau lebih disiplin atau
bidang studi. Dengan pendekatan tersebut pada akhirnya permasalahan-permasalahan
yang sering muncul dikarenakan perbedaan disiplin bidang studi akan dapat di
kompromikan sehingga permasalahan-permasalahan tersebut dapat diselesaikan.
Tidak hanya itu, pendekatan interdisipliner ini juga dapat dijadikan bahan penguat
antara disipli satu dengan yang lain sehingga akan lebih menyempurnakan hasil
dari temuan yang dikaji.
C.
Era Disrupsi
Pendidikan
merupakan proses untuk menghasilkan perubahan pada tataran mikro (diri
pembelajar), meso (lingkungan terdekat seputar pembelajar) maupun makro
(lingkungan pada skala lebih besar). Proses belajar mengajar seyogyanya
kontekstual dengan merespons pada apa yang menggejala di lingkungan sekitar,
terlebih menghadapi pembelajar yang datang ke institusi pendidikan tinggi
dewasa ini. Mahasiswa kita dewasa ini adalah generasi Z (lahir dalam rentang
1995-2010), sementara pasar kerja, yang adalah pengguna lulusan dari pendidikan
tinggi, didominasi oleh Millenial.[10]
Dunia
pendidikan tengah dihadapkan pada tantangan besar dalam menyiapkan lulusannya
untuk terjun ke masyarakat. Pembicaraan terkait link and match yang
dikumandangkan Wardiman Djojonegoro,
Menteri Pendidikan Nasional (1993-1998), hari ini menjadi sangat relevan. Pada
masa pemerintahan tersebut, tujuan pendidikan adalah menghasilkan lulusan yang
mampu beradaptasi dengan dunia kerja. Jadi, lapangan kerjanya sudah ada, dunia
pendidikan tinggal menyesuaikan dan menyiapkan lulusan menuju lapangan
tersebut. Hari ini, kita berhadapan dengan lapangan kerja yang terus dan sangat cepat berubah. [11]
Kompetisi
pasar yang tinggi. Persaingan lulusan di pasar kini tidak lagi pada dikotomi
lulusan dalam dan luar negeri, atau lulusan dari PT unggul, tetapi terutama
berhadapan dengan teknologi. Proses kerja yang jauh lebih efisien menghadapkan
lulusan pada kompetisi tinggi di pasar kerja. Produk teknologi tidak lagi
sekedar meringankan hidup manusia, bahkan kini telah mampu menggantikan peran
manusia. Di bidang industri jasa kecerdasan buatan/artificial intellegence (AI)
sudah digunakan untuk melayani pelanggan, sehingga jumlah karyawan tereduksi
lebih dari 80%. Demikian juga dengan layanan keuangan, di mana proses
penelusuran track record calon debitor mampu dilakukan oleh AI dengan mudah dan
cepat (Tekfin). Pekerjaan menyusun
siaran pers di industri media juga menjadi lebih efisien berkat AI. Dalam
bidang kesehatan produk AI mampu memberikan kesimpulan lebih cepat akan terapi
terbaru dan efektivitasnya dibandingkan kecepatan dokter akses dan baca jurnal.
Kecerdasan buatan juga telah melahirkan platform yang mampu menggantikan fungsi
supervisor pabrik.Singkat kata, produk PT (lulusan) menghadapi pasar yang sangat kompetitif.
Hanya mereka yang memiliki keunggulan saja yang akan mampu keluar sebagai
pemenang di lapangan kerja.
Lapangan
pekerjaan baru bermunculan. Kehadiran sejumlah model bisnis berbasis teknologi
tiba-tiba menggoncangkan model bisnis tradisional. Sementara dunia pendidikan
masih dengan proses penyiapan lulusannya untuk menjadi resepsionis, house
keeping, dan peran sejenisnya untuk bekerja di hotel, dunia industri sudah
bergerak dengan model lain. Dunia pendidikan dan dunia kerja semakin senjang.
Apabila dunia pendidikan tidak antisipasi, kelak akan banyak lulusan menganggur
yang dihasilkan perguruan tinggi. Profesi yang potensial hilang atau berubah
wujud. Sejumlah profesi disinyalir akan beruba wujud, dan kemungkinan hilang
karena teknologi. Beberapa area terkait konsultasi perlu cermat mengamati
perkembangan ini. Bidang hukum misalnya, perlu waspada dengan kecerdasan buatan
yang mampu memberikan pendampingan di bidang hukum, berbasis big data yang
dihimpunnya dari pola respons di meja persidangan. Pun demikian dengan
konsultasi kesehatan dengan dokter di ruang praktek yang terancam oleh AI.
Psikologi
punya tantangan tersendiri berhadapan dengan produk kecerdasan buatan manusia,
yang mampu menghimpun informasi lebih cepat dan komprehensif untuk pengambilan
keputusan. Sebagai contohnya untuk bidang konsultasi seiring dengan kehadiran
AI terapis.[12]
Terapis ini sangat mirip manusia, dengan mimik bicara, gerakan dan perilaku bak
terapis riil. Ditopang oleh alat rekam yang diprogram lewat aplikasi komputer,
ekspresi wajah klien yang berkonsultasi dapat dipotret hingga 60 lebih titik di
wajah, sehingga ekspresi emosi klien dapat dikenali dengan akurat. AI terapis
jelas mengatasi masalah kebohongan klien, dan juga ketidaknyamanan yang
dirasakan oleh klien, ketika merespons pertanyaan sensitif.[13]
Jadi pada
intinya, hanya ada satu cara untuk selamat dari era disrupsi ini, yakni
berubah. Dunia bisnis paling cepat menyadari hal ini, dan meresponsnya dengan
bertransformasi. Berbeda dengan respons institusi pendidikan relatif lambat,
terlebih mereka yang adalah universitas tua, akibat kondisi internalorganisasi
sendiri.
D. Era Milennial
Istilah
generasi millenial atau sering juga disebut generasi Y memang sedang akrab
terdengar, istilah ini pertama kali dicetuskan oleh dua pakar sejarah dan
juga penulis amerika, William strauss
dan Neill howe dalam beberapa bukunya. Secara harfiah memang tidak ada
demografi khusus dalam menentukan kelompok generasi yang satu ini, namun pada
awalnya penggolongan pada generasi ini terbentuk bagi mereka yang lahir pada
tahun 1990 dan juga pada awal 2000,dan seterusnya.
Pada saat ini generasi millenial
lebih memilih ponsel dibanding TV, sebab generasi ini lahir di era kecanggihan
teknologi, dan internet berperan besar dalam keberlangsungan hidup mereka, maka
televisi bukanlah prioritas generasi millenial untuk mendapatkan informasi atau
melihat iklan yang tidak ada pentingnya. Generasi millenial lebih suka
mendapatkan informasi dari ponselnya, dengan mencarinya ke Google atau perbincangan pada forum-forum, yang diikuti
generasi ini untuk selalu up-to-date dengan keadaan sekitar. Jika dihadapkan pada
sebuah pilihan, mayoritas generasi sekarang akan lebih memilih ponsel daripada
TV. hampir semua kalangan, informasi berkembang dengan pesat danpenyebarannya
semakin cepat. Berdasarkan penelitian bahwa mayoritas millennial mendapatkan
berita bersumber dari media sosial seperti facebook dan twitter dimana
kredibilitas sumber berita sangat sulit untuk diukur. Penelitian menunjukkan
bahwagenerasi millennial cenderung malas untuk memvalidasi kebenaran beritayang
mereka terima dan cenderung menerima informasi hanya dari satusumber, yaitu
media sosial, inilah kondisi peserta didik saat ini, yang lebih memanfaatkan
dan percaya denganmedia sosial dalam kegiatannya sehari-hari.[14]
Dalam melihat hubungan manusia
dengan ruang dan waktu, ciri generasi millennial dalam berkomunikasi bersifat
Instant Communicationdi lingkungan real time, Network Development, yaitu
mengembangkan jaringan yang memungkinkan
generasi ini untuk terhubung satu sama lain untuk berkoneksi dan kolaborasi.
Terkait dengan prinsip dasar hubungan manusia dengan alam, mempunyai prinsip
pemanfaatan dan sekaligus pelestarian
lingkungan alam. Manusia harus menguasai teknologi dan ilmu pengetahuan untuk digunakan dalam
pemanfaatan, pengelolaan, kelestarian sekaligus bagi keselarasan, harmoni dan
penguasaan alam demi kemanfaatan umat manusia dan alam sekitarnya. Sementara
itu, dalam melihat hubungan manusia dengan sesama manusia, lebih terbuka
terhadap berbagai akses informasi yang
bersifat lintas batas, cenderung lebih
permisif terhadap keanekaragaman. Mereka tidak peduli tentang privasi
dan bersedia untuk berbagi rincian intim tentang diri mereka sendiri dengan
orang asing.Budaya membuat status merupakan aktivitas
sehari-hari.Cybercultureadalah sebuah kebudayaan baru di mana seluruh aktivitas
kebudayaannya dilakukan dalam dunia maya yang tanpa batas.Namun demikian
generasi millennial tetap berpandangan bahwa keluarga merupakan pilar yang
sangat penting bagi kehidupannya.[15]
E. Urgensi Metodologi Studi Islam Interdisipliner Di Era Disrupsi dan
Milennial
Jauh sebelumnya, dalam sejarah kependidikan
Islam telah pula terpola pengembangan keilmuan yang bercorak integralistik-ensiklopedik di satu sisi,
yang dipelopori oleh para ilmuan seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Ibnu Khaldun,
berhadapan pula dengan pola pengembangan keilmuan agama yang spesifik-parsialistik di sisi lain, yang
dikembangkan oleh para ahli hadis dan ahli fiqih. Keterpisahan secara diametral
antara keduanya dan sebab-sebab lain yang bersifat politis-ekonomis, berakibat
pada rendahnya mutu pendidikan dan kemunduran dunia Islam pada umumnya.[16]
Studi Islam pada dekade 2000-an
mengalami pembatasan-pembatasan yang dilakukan oleh nalar saintifik Barat
(sebagaimana terlihat dalam filologi) ketika diterapkan untuk
kebudayaan-kebudayaan atau konsep-konsep asing di luar realitas Eropa Kristen
dan peradaban Barat sekuler. Disiplin studi islam tetap hegemonik: ia selalu
menekankan klasifikasi, kategori, definisi, distingsi, konsep-konsep, dan
teori-teori tentang kebudayaan lain tanpa ketakutan akan kritik atau penolakan,
kecuali barangkali tentang landasan-landasan polemik atau ideologis. Ini
menjadi mungkin karena pada awal abad ke-21, dunia Muslim yang menjadi objek
dari penelitian Studi Islam memproduksi pandangan konseptualnya sendiri tentang
sejarah, kebudayaan, dan agama sehingga akan menentang perspektif hegemonik
yang inheren dalam Studi Islam dan memaksanya untuk mengakui penafsiran
alternative.
[17]
Tantangan di era globalisasi
menuntut respons tepat dan cepat dari sistem pendidikan Islam secara
keseluruhan. Jika kaum Muslimin tidak hanya ingin sekedar survive di tengah persaingan global yang semakin tajam dan ketat,
tetapi juga berharap mampu tampil di depan, maka re-orientasi pemikiran
mengenai pendidikan Islam dan rekonstruksi sistem dan kelembagaan merupakan
keniscayaan. Umat Islam tidak boleh berpangku tangan dan menonton dari seluruh
perkembangan yang terjadi.[18]
Oleh karena itu penting bagi kajian
islam untuk mengintegralkan dan menghilangkan dikotomi antara ilmu umum dan
ilmu agama. Hal ini penting untuk memberikan landasan moral Islam terhadap
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, lingkungan hidup, sosial-ekonomi, sosial-budaya, sosial-politik dan sosial-keagamaan, sekaligus
mengartikulasikan ajaran Islam sesuai dengan perkembangan dan kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi, humaniora dan sosial kontemporer, agar agama islam tidak semakin
tertinggal dan bisa berjalan beriringan dengan kemajuan teknologi akibat dari
perkembangan zaman yang ada.
F. Penutup
Pengetahuan
Islam sebaiknya dibuat dalam bentuk norma agar dapat diterima secara universal.
Karena semua epistemologis berasal dari konsep yang universal. Maka mengandung
nilai yang berlaku selamanya, dan menyangkut seluruh umat manusia. Pengetahuan
islam, yang tidak dapat diaplikasikan pada kehidupan sosial manusia, yang tidak
bermanfaat bagi dan tidak dapat di-sharing
kepada pihak non-muslim, tidak bisa diberi label islam. Oleh karena itu,
Perkembangan ilmu pengetahuan pada akhirnya menuntut para penggiat dunia
akademis untuk terus melakukan perbaikan-perbaikan dan perubahan-perubahan
dalam rangkan menyesuaiakan diri diera yang terus berkembang. Begitupun dalam
bidang studi Islam, para akademisi studi Islam harus mampu menempatkan dirinya
dalam rangka menghadapi perkembangan zaman yang terus mengalami perubahan
dengan permasalahan-permasalahan yang semakin kompleks. Dalam rangka menjawab
persoalan-persoalan tersebut, kajian studi Islam interdisipliner dipandang
perlu dan menjadi hal yang sangat dibutuhkan untuk menjawab persoalan-persoalan
yang terus berkembang ini.
Perkembangan
tekonologi dengan kemajuannya di era disrupsi saat ini semakin memudahkan hidup
manusia. Banyak hal bisa terselesaikan
dalam satu klik hanya dengan menggunakan smartphone saja. Tuntutan era millenial dibutuhkan juga kajian yang dapat membidik dari
berbagai sudut sehingga akan mendapatkan pemahaman yang holistik dan
komprehensif.
Untuk mendapatkan hasil pemahaman tersebut dalam kajian keislaman
dibutuhkan tidak hanya satu pendekatan disiplin ilmu (monodisiplin). Penggunaan
pendekatan antropologis, sosiologis, filosofis, hukum dan sebagainya secara
bersama-sama (pendekatan interdisipliner) akan membuka fakta secara utuh tanpa
ada potongan-potongan pemahaman yang tertinggal. Meskipun terkadang tidak dapat
dipungkiri lagi bahwa antara pendekatan monodisiplin maupun interdisiplin tetap
membawa karakteristik masing-masing sebagai ciri dan konsekuensi pilihan bagi
orang yang menggunakannya.
DAFTAR
PUSTAKA
Abdullah, Amin. 2010. Islamis
Studies di Perguruan Tinggi.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Baidhawy
Zakiyuddin. 2011. Studi Islam
Pendekatan dan Metode. Yogyakarta: Insan Madani
Chanifudin. 2016. Pendekatan Interdisipliner: Tata Kelola
Pendidikan Islam di Tengah Kompleksitas. Jurnal (Edukasi Islami Jurnal
Pendidikan Islam, Vol. 05, Januari 2016
Khoiriyah. 2013. Memahami Metodologi Studi Islam (Suatu Konsep
tentang Seluk Beluk Pemahaman Ajaran Islam Studi Islam dan Isu-isu Kontemporer
dalam Studi Islam). Yogyakarta: Teras
Mucharomah, Miftah. 2017. Guru di Era Milenia dalam Bingkai
Rahmatan Lil Alamin. Jurnal Edukasia Islamika, Vol. 2, No. 2, 2017
Murniati, Uliana. 2017. Paper dipresentasikan dalam Hari Studi
APTIK.
Nasution, Khoiruddin, dkk. 2013.
Islam,
Agama-agama, dan Nilai Kemanusiaan: Festschrift Untuk M. Amin Abdullah. Yogyakarta:
CISForm (Center for the Study of Islam and Social Transformation) UIN Sunan
Kalijaga
Wahana, Heru Dwi. 2015. Pengaruh Nilai-nilai Budaya Generasi
Millennial dan Budaya Sekolah Terhadap Ketahanan Individu: Studi di SMA Negeri
39, Cijantung, Jakarta. Jurnal Ketahanan Nasional, XXI 1April 2015
Zakiyuddin
Baidhawy. 2010. Studi Islam: Pendekatan
dan Metode. Yogyakarta: Insan Madani
https://futurism.com/uscs-new-ai-ellie-has-more-success-than-actual-therapists/). Diunduh pada 1 Mei 2018, pada pukul 04 am
Kompas, 24 September 2017
[1] Ziauddin Sardar, Merombak Pola Pikir
Intelektual Muslim, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000, 48
[2] Edi Susanto, Dimensi Studi Islam Kontemporer , (Jakarta:
Prenadamedia Group, 2016), hal 135
[3] Kompas, 24 September 2017
[4] Khoiriyah, Memahami Metodologi Studi Islam (Suatu Konsep tentang Seluk
Beluk Pemahaman Ajaran Islam Studi Islam dan Isu-isu Kontemporer dalam Studi
Islam), Yogyakarta: Teras, 2013, 19-20
[5] Zakiyuddin Baidhawy, Studi Islam Pendekatan dan Metode, Yogyakarta:
Insan Madani, 2011, 2-3
[6] Zakiyuddin Baidhawy, Studi Islam Pendekatan dan Metode, Yogyakarta:
Insan Madani, 2011, 6-7
[7] Nasution, Khoiruddin, dkk, Islam, Agama-agama, dan Nilai
Kemanusiaan: Festschrift Untuk M. Amin Abdullah. Yogyakarta:
CISForm (Center for the Study of Islam and Social Transformation) UIN Sunan
Kalijaga, 2013, 199-120
[8] Zakiyuddin Baidhawy, Islamic Studies Pendekatan dan Metode, Yogyakarta:
Insan Madani, 2011, hal 4
[9] Chanifudin, “Pendekatan Interdisipliner: Tata Kelola Pendidikan
Islam di Tengah Kompleksitas”, (Edukasi Islami Jurnal Pendidikan Islam,
Vol. 05, Januari 2016), 1286.
[12] https://futurism.com/uscs-new-ai-ellie-has-more-success-than-actual-therapists/). Diunduh pada 1 Mei
2018, pada pukul 04 am
[14]Miftah Mucharomah, Guru di Era Milenia dalam Bingkai Rahmatan Lil
Alamin, (Edukasia Islamika, Vol. 2, No. 2, 2017), hal 203
[15] Heru Dwi Wahana,“Pengaruh Nilai-nilai Budaya Generasi Millennial
dan Budaya Sekolah Terhadap Ketahanan Individu: Studi di SMA Negeri 39,
Cijantung, Jakarta”, (Jurnal Ketahanan Nasional, XXI 1),April 2015: 18
[16] Amin Abdullah, Islamis Studies
di Perguruan Tinggi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010, 96
[17] Zakiyuddin Baidhawy, Studi
Islam: Pendekatan dan Metode,
Yogyakarta: Insan Madani, 2010, 54-55
[18]Amin Abdullah, Islamis Studies di
Perguruan Tinggi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010, 98-99
Tidak ada komentar:
Posting Komentar