Selasa, 05 Juni 2018

STUDI ISLAM INTERDISIPLINER DI ERA DISRUPSI DAN MILENIAL



STUDI ISLAM INTERDISIPLINER DI ERA DISRUPSI DAN MILENIAL

PENI NUR HIDAYATI (12020170020)
PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA

A.    Pendahuluan
Islam  merupakan  agama  terakhir  sebagai  penutup agama Allah yang  telah  ada, islam  merupakan  agama rahmatal  lil  a’lamin untuk  semua umat. Untuk  mengetahui  islam  lebih  mendalam  maka muncullah  ilmu yang  dinamakan  Studi  Islam  akan  tetapi  Studi  Islam  itu  sendiri  merupakan bidang kajian yang cukup lama. Ia telah ada bersama dengan adanya agama islam maka  dari  itu  Studi Islam  menimbulkan  berbagai  permasalahan  yang umum, diantaranya: apa pengertian Studi Islam, apa ruang lingkup, atau objek Studi  Islam, apa tujuan  Studi  Islam, bagaimana  pendekatan,  metodologi dalam Studi Islam, dan lain-lain.
Seiring  dinamika  dan  perkembangan  zaman,  kesempatan  untuk mempelajari Studi Islam dapat melalui segala hal, berkaitan dengan persoalan tentang mempelajari Studi Islam, islam memberikan kesempatan secara luas kepada manusia untuk menggunakan akal pikirannya secara maksimal untuk mempelajarinya, namun jangan sampai penggunaannya melampaui batas dan keluar dari rambu-rambu ajaran Allah SWT. Oleh karena itu, islam sebagai ajaran menjadi sebuah topik yang menarik untuk  dikaji  baik  dari  kalangan  intelektual  muslim  sendiri  maupun  intelektual barat, mulai tradisi orientalis sampai pada liberalis.
Pengetahuan Islam juga harus dibuat dalam bentuk norma agar dapat diterima secara universal. Karena semua epistemologis berasal dari konsep yang universal, maka mengandung nilai yang berlaku selamanya, dan menyangkut seluruh umat manusia. Pengetahuan islam, yang tidak dapat diaplikasikan pada kehidupan sosial manusia, yang tidak bermanfaat bagi dan tidak dapat di-sharing kepada pihak non-muslim, tidak bisa diberi label islam.[1]
Perkembangan ilmu pengetahuan pada akhirnya menuntut para penggiat dunia akademis untuk terus melakukan perbaikan-perbaikan dan perubahan-perubahan dalam rangkan menyesuaiakan diri diera yang terus berkembang ini. Begitupun dalam bidang studi Islam, para akademisi studi Islam harus mampu menempatkan dirinya dalam rangka menghadapi perkembangan zaman yang terus mengalami perubahan dengan permasalahan-permasalahan yang semakin kompleks. Dalam rangka menjawab persoalan-persoalan tersebut, kajian studi Islam interdisipliner dipandang perlu dan menjadi hal yang sangat dibutuhkan untuk menjawab persoalan-persoalan yang terus berkembang ini.
Persentuhan Islam dengan dinamika kehidupan masyarakat dalam berbagai lapisan dan dinamikanya serta gerak progresif perubahan zaman telah membawa Islam untuk dan dipaksa terlibat dengan berbagai isu kontemporer dinamika kehidupan, yang sangat boleh jadi, tidak terjadi dan karenanya tidak dikenal pada masyarakat sebelumnya.[2]
Tekonologi dengan kemajuannya semakin memudahkan hidup manusia. Banyak hal bisa  terselesaikan dalam satu klik dengan smartphone. Butuh informasi jalan, tinggal klik Waze atau Google map untuk jawabannya. Memandu wisata-pun bisa dilakukan oleh google map dan penerjemah digital. Bahkan kini tersedia OnTA (online travel assistant), aplikasi berisi informasi destinasi wisata mulai dari pesawat, akomodasi, tempat layak dikunjungi, hingga kuliner dan tempat  belanja[3]. Teknologi digital telah mengubah tatanan hidup manusia, juga dalam pola interaksi dengan jumlah interaksi tatap muka yang semakin minim.  Apa yang bisa dilakukan oleh manusiapun semakin terbatas. Mengumpulkan data, mengompilasinya  hingga membentuk pola kini bisa dilakukan oleh mesin belajar (learning machine), produk  kecerdasan buatan (artificial intellegence). Kecerdasan buatan ini diantisipasi akan mampu  menggantikan manusia dalam mengambil keputusan yang kompleks. Mesin akan menggantikan peran eksekutif yang umumnya butuh rapat panjang berhari-hari untuk tiba pada keputusan kompleks ini.
Kajian keislaman  (Islamic  studies)  merupakan  suatu  disiplin  ilmu  yang  membahas islam baik ajaran, kelembagaan, sejarah maupun kehidupan umatnya. Dalam prosesnya,  usaha  kajian  itu mencerminkan suatu  transmisi  doktrin-doktrin keagamaan dari generasi ke generasi, dengan menjadikan tokoh-tokoh agama, mulai  dari  Rasulullah  sampai  dengan  ustad  dan  para  dai  sebagai  perantara sentral  yang  hidup.  Dari  ustad  maupun  guru  kita  dapat  mengetahui  apa  itu studi islam, baik pengertian, ruang lingkup, obyek, pendekatan, metodologi. Untuk menjawab mengetahui lebih lanjut mengenai urgensi studi islam interdisipliner di era disrupsi dan milenial, maka penulis akan dibahas dalam paper ini.

B.     Pengertian Studi Islam Interdisipliner
1.      Studi Islam
Istilah Studi Islam secara Etimologi (bahasa) merupakan gabungan dari dua kata  yaitu  Studi  dan  Islam.  Dan  kata  studi  sendiri  memiliki  banyak  makna, diantaranya Studi  berasal  dari  bahasa  Inggris  yaitu Study, yang  berarti mempelajari  atau  mengkaji. Dan  menurut  Lester  & Alice  Crow menyebutkan  bahwa  studi  adalah  kegiatan  yang  secara  sengaja  diusahakan dengan  maksud  untuk  memperoleh  keterangan,  mencapai  pemahaman  yang lebih  besar  atau  meningkatkan  suatu  keterampilan.  Kemudian  menurut Muhammad Hatta  Studi  adalah  mempelajari  sesuatu  untuk  mengerti kedudukan  masalahnya,  mencari  pengetahuan  tentang  sesuatu  dalam hubungan sebab akibatnya, ditinjau dari jurusan tertentu dan dengan metode tertentu  pula. Sedangkan  Islam  berasal  dari bahasa  Arab,  yaitu  kata salima dan aslama.  Salima mengandung  arti  selamat,  tunduk,  dan  berserah.
Sedangkan aslama juga  mengandung  arti  kepatuhan,  ketundukan,  dan berserah. Yang disebut dengan muslim adalah orang yang tunduk, patuh, dan berserah  diri  sepenuhnya  kepada  ajaran  Islam  dan  akan  selamat  dunia  dan akhirat.[4] Studi Islam (Islam Study) merupakan kajian yang penting dalam kehidupan manusia. Dalam studi islam ini kita juga bukan hanya menjadi sebagai penonton dan penikmat hasil dari sebuah kajian keislaman, tetapi kita juga berperan sebagai pelaku dari perkembangan studi islam tersebut.  Menurut  definisi, islam studi memiliki beberapa pengertian, diantarannya: Pertama, studi tentang disiplin dan tradisi intelektual keagamaan klasik menjadi inti dari studi islam, karena berada di jantung kebudayaan yang dipelajari  dalam peradapan islam dan agama islam, karena banyak muslim terpelajar yang masih memandangnya sebagai sebuah persoalan penting. Kedua, Islamic studies adalah suatu bidang yang sempit, karena upaya-upaya untuk memperluas bidang kajiannya dapat mengakibatkan berkurangnya kualitas kajian. Ketiga, pendidikan berbasis keimanan bagi muslim mengenai islam, dan studi lintas disiplin tentang islam yang bersandar kepada ilmu-ilmu humaniora dan ilmu-ilmu sosial, keduannya memberikan tujuan yang bermanfaat.[5]
Kajian Islam Barat, Inggris misalnya, memberikan mahasiswa strata satu berbagai materi yang relevan dengan islam dengan mempergunakan metodologi pengajaran yang dilandaskan pada obyektivitas ditas. Pendekatan atas islam studi di sini sering didasarkan atas pandangan akademik barat tentang islam yang terpusat pada metodologi ilmiah seperti orientalisme, ilmu sosila atau antropologi kontemporer. Sering dijumpai bahwa mahasiswa muslim disini akan menghadapi tantangan nyata di mana pengetahuan dasar mereka tentang agama dan sejarhnya sendiri diuji secara kritis. Sedangkan pada tingkat pascasarjana masalahnya lebih kompleks dan seringkali ketidaksepakatran mengenai pendekatan pada apa yang dapat dan tidak dapat mencapapi kebenaran membawa pada perubahan subjek yang dikaji mahasiswa. [6]
Jadi studi islam merupakan kajian yang penting dalam kehidupan manusia. Dalam studi islam ini kita juga bukan hanya menjadi sebagai penonton dan penikmat hasil dari sebuah kajian keislaman, tetapi kita juga berperan sebagai pelaku dari perkembangan studi islam tersebut. Contohnya kajian islam barat memberikan mahasiswa strata satu berbagai materi yang relevan dengan islam dengan mempergunakan metodologi pengajaran yang dilandaskan pada obyektivitas ditas. Pendekatan atas islam studi di sini sering didasarkan atas pandangan akademik barat tentang islam yang terpusat pada metodologi ilmiah seperti orientalisme, ilmu sosila atau antropologi kontemporer.
2.      Interdisipliner
Ada tiga istilah yang hampir sama dengan interdisipliner, yakni: interdisipliner, multidisipliner, transdisipliner. Interdisipliner adalah kajian yang menggabungkan atau melibatkan dua atau lebih disiplin atau bidang studi (combining or involving two or more academic disciplines or field of study). Adapun pengertian transdisciplinarity dalam Wikipedia berarti penelitian yg mengawinkan beberapa batas disiplin untuk menciptakan pendekatan holistik. Batas disiplin yang dilibatkan dalam transdisiplinary bisa dua atau lebih. Contoh yang ditulis adalah dalam mengkaji bioinformatika yang sebelumnya hanya dilibatkan satu disiplin kemudian ditambah beberapa disiplin lain seperti ethnography, sebuah metode penelitian lapangan yang selama ini dikembangkan dalam antropologi. Maka dengan pendekatan ini digunakan lebih luas oleh disiplin lain.[7]
Dalam bahasa metodologi, para peneliti meminjam serangkaian disiplin termasuk ilmu-ilmu sosial. Kurang tegasnya batasan-batasan ini justru menyediakan peluang untuk memperkaya studi interdisipliner yang beragam.[8] Oleh karenanya, dibutuhkan suatu pendekatan yang dapat mencakup studi Islam Pendekatan interdisipliner (interdisciplinary approach).
Pendekatan dalam pemecahan suatu masalah dengan menggunakan tinjauan  berbagai sudut pandang ilmu serumpun yang relevan secara terpadu. Ilmu yang relevan maksudnya ilmu-ilmu yang cocok digunakan dalam pemecahansuatu masalah. Adapun istilah terpadu, yang dimaksud yaitu ilmu-ilmu yang digunakan dalam pemecahan suatu masalah melalui pendekatan ini terjalin satu sama lain secara tersirat(implicit)merupakan suatu kebulatan atau kesatuan pembahasan atau uraian termasuk dalam setiap sub-sub uraiannya. Ciri pokok atau kata kunci dari pendekatan indisipliner ini adalah inter(terpadu antar ilmu dalam rumpun ilmu yang sama).[9]
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat kita ketahui bahwa pendekatan interdisipliner adalah pendekatan yang menggabungkan atau melibatkan dua atau lebih disiplin atau bidang studi. Dengan pendekatan tersebut pada akhirnya permasalahan-permasalahan yang sering muncul dikarenakan perbedaan disiplin bidang studi akan dapat di kompromikan sehingga permasalahan-permasalahan tersebut dapat diselesaikan. Tidak hanya itu, pendekatan interdisipliner ini juga dapat dijadikan bahan penguat antara disipli satu dengan yang lain sehingga akan lebih menyempurnakan hasil dari temuan yang dikaji.

C.    Era Disrupsi
Pendidikan merupakan proses untuk menghasilkan perubahan pada tataran mikro (diri pembelajar), meso (lingkungan terdekat seputar pembelajar) maupun makro (lingkungan pada skala lebih besar). Proses belajar mengajar seyogyanya kontekstual dengan merespons pada apa yang menggejala di lingkungan sekitar, terlebih menghadapi pembelajar yang datang ke institusi pendidikan tinggi dewasa ini. Mahasiswa kita dewasa ini adalah generasi Z (lahir dalam rentang 1995-2010), sementara pasar kerja, yang adalah pengguna lulusan dari pendidikan tinggi,  didominasi oleh Millenial.[10]
Dunia pendidikan tengah dihadapkan pada tantangan besar dalam menyiapkan lulusannya untuk terjun ke masyarakat. Pembicaraan terkait link and match yang dikumandangkan Wardiman  Djojonegoro, Menteri Pendidikan Nasional (1993-1998), hari ini menjadi sangat relevan. Pada masa pemerintahan tersebut, tujuan pendidikan adalah menghasilkan lulusan yang mampu beradaptasi dengan dunia kerja. Jadi, lapangan kerjanya sudah ada, dunia pendidikan tinggal menyesuaikan dan menyiapkan lulusan menuju lapangan tersebut. Hari ini, kita berhadapan dengan lapangan kerja  yang terus dan sangat cepat berubah. [11]
Kompetisi pasar yang tinggi. Persaingan lulusan di pasar kini tidak lagi pada dikotomi lulusan dalam dan luar negeri, atau lulusan dari PT unggul, tetapi terutama berhadapan dengan teknologi. Proses kerja yang jauh lebih efisien menghadapkan lulusan pada kompetisi tinggi di pasar kerja. Produk teknologi tidak lagi sekedar meringankan hidup manusia, bahkan kini telah mampu menggantikan peran manusia. Di bidang industri jasa kecerdasan buatan/artificial intellegence (AI) sudah digunakan untuk melayani pelanggan, sehingga jumlah karyawan tereduksi lebih dari 80%. Demikian juga dengan layanan keuangan, di mana proses penelusuran track record calon debitor mampu dilakukan oleh AI dengan mudah dan cepat (Tekfin).  Pekerjaan menyusun siaran pers di industri media juga menjadi lebih efisien berkat AI. Dalam bidang kesehatan produk AI mampu memberikan kesimpulan lebih cepat akan terapi terbaru dan efektivitasnya dibandingkan kecepatan dokter akses dan baca jurnal. Kecerdasan buatan juga telah melahirkan platform yang mampu menggantikan fungsi supervisor pabrik.Singkat kata, produk PT (lulusan)  menghadapi pasar yang sangat kompetitif. Hanya mereka yang memiliki keunggulan saja yang akan mampu keluar sebagai pemenang di lapangan kerja.
Lapangan pekerjaan baru bermunculan. Kehadiran sejumlah model bisnis berbasis teknologi tiba-tiba menggoncangkan model bisnis tradisional. Sementara dunia pendidikan masih dengan proses penyiapan lulusannya untuk menjadi resepsionis, house keeping, dan peran sejenisnya untuk bekerja di hotel, dunia industri sudah bergerak dengan model lain. Dunia pendidikan dan dunia kerja semakin senjang. Apabila dunia pendidikan tidak antisipasi, kelak akan banyak lulusan menganggur yang dihasilkan perguruan tinggi. Profesi yang potensial hilang atau berubah wujud. Sejumlah profesi disinyalir akan beruba wujud, dan kemungkinan hilang karena teknologi. Beberapa area terkait konsultasi perlu cermat mengamati perkembangan ini. Bidang hukum misalnya, perlu waspada dengan kecerdasan buatan yang mampu memberikan pendampingan di bidang hukum, berbasis big data yang dihimpunnya dari pola respons di meja persidangan. Pun demikian dengan konsultasi kesehatan dengan dokter di ruang praktek  yang terancam oleh AI.
Psikologi punya tantangan tersendiri berhadapan dengan produk kecerdasan buatan manusia, yang mampu menghimpun informasi lebih cepat dan komprehensif untuk pengambilan keputusan. Sebagai contohnya untuk bidang konsultasi seiring dengan kehadiran AI terapis.[12] Terapis ini sangat mirip manusia, dengan mimik bicara, gerakan dan perilaku bak terapis riil. Ditopang oleh alat rekam yang diprogram lewat aplikasi komputer, ekspresi wajah klien yang berkonsultasi dapat dipotret hingga 60 lebih titik di wajah, sehingga ekspresi emosi klien dapat dikenali dengan akurat. AI terapis jelas mengatasi masalah kebohongan klien, dan juga ketidaknyamanan yang dirasakan oleh klien, ketika merespons pertanyaan sensitif.[13]
Jadi pada intinya, hanya ada satu cara untuk selamat dari era disrupsi ini, yakni berubah. Dunia bisnis paling cepat menyadari hal ini, dan meresponsnya dengan bertransformasi. Berbeda dengan respons institusi pendidikan relatif lambat, terlebih mereka yang adalah universitas tua, akibat kondisi internalorganisasi sendiri.

D.    Era Milennial
Istilah generasi millenial atau sering juga disebut generasi Y memang sedang akrab terdengar, istilah ini pertama kali dicetuskan oleh dua pakar sejarah dan juga  penulis amerika, William strauss dan Neill howe dalam beberapa bukunya. Secara harfiah memang tidak ada demografi khusus dalam menentukan kelompok generasi yang satu ini, namun pada awalnya penggolongan pada generasi ini terbentuk bagi mereka yang lahir pada tahun 1990 dan juga pada awal 2000,dan seterusnya.
Pada saat ini generasi millenial lebih memilih ponsel dibanding TV, sebab generasi ini lahir di era kecanggihan teknologi, dan internet berperan besar dalam keberlangsungan hidup mereka, maka televisi bukanlah prioritas generasi millenial untuk mendapatkan informasi atau melihat iklan yang tidak ada pentingnya. Generasi millenial lebih suka mendapatkan informasi dari ponselnya, dengan mencarinya ke Google atau  perbincangan pada forum-forum, yang diikuti generasi ini untuk selalu up-to-date dengan keadaan sekitar. Jika dihadapkan pada sebuah pilihan, mayoritas generasi sekarang akan lebih memilih ponsel daripada TV. hampir semua kalangan, informasi berkembang dengan pesat danpenyebarannya semakin cepat. Berdasarkan penelitian bahwa mayoritas millennial mendapatkan berita bersumber dari media sosial seperti facebook dan twitter dimana kredibilitas sumber berita sangat sulit untuk diukur. Penelitian menunjukkan bahwagenerasi millennial cenderung malas untuk memvalidasi kebenaran beritayang mereka terima dan cenderung menerima informasi hanya dari satusumber, yaitu media sosial, inilah kondisi peserta didik saat ini, yang lebih memanfaatkan dan percaya denganmedia sosial dalam kegiatannya sehari-hari.[14]
Dalam melihat hubungan manusia dengan ruang dan waktu, ciri generasi millennial dalam berkomunikasi bersifat Instant Communicationdi lingkungan real time, Network Development, yaitu mengembangkan  jaringan yang memungkinkan generasi ini untuk terhubung satu sama lain untuk berkoneksi dan kolaborasi. Terkait dengan prinsip dasar hubungan manusia dengan alam, mempunyai prinsip pemanfaatan dan sekaligus  pelestarian lingkungan alam. Manusia harus menguasai teknologi dan ilmu  pengetahuan untuk digunakan dalam pemanfaatan, pengelolaan, kelestarian sekaligus bagi keselarasan, harmoni dan penguasaan alam demi kemanfaatan umat manusia dan alam sekitarnya. Sementara itu, dalam melihat hubungan manusia dengan sesama manusia, lebih terbuka terhadap  berbagai akses informasi yang bersifat lintas batas, cenderung lebih  permisif terhadap keanekaragaman. Mereka tidak peduli tentang privasi dan bersedia untuk berbagi rincian intim tentang diri mereka sendiri dengan orang asing.Budaya membuat status merupakan aktivitas sehari-hari.Cybercultureadalah sebuah kebudayaan baru di mana seluruh aktivitas kebudayaannya dilakukan dalam dunia maya yang tanpa batas.Namun demikian generasi millennial tetap berpandangan bahwa keluarga merupakan pilar yang sangat penting bagi kehidupannya.[15]

E.     Urgensi Metodologi Studi  Islam Interdisipliner Di Era Disrupsi dan Milennial
Jauh sebelumnya, dalam sejarah kependidikan Islam telah pula terpola pengembangan keilmuan yang bercorak integralistik-ensiklopedik di satu sisi, yang dipelopori oleh para ilmuan seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Ibnu Khaldun, berhadapan pula dengan pola pengembangan keilmuan agama yang spesifik-parsialistik di sisi lain, yang dikembangkan oleh para ahli hadis dan ahli fiqih. Keterpisahan secara diametral antara keduanya dan sebab-sebab lain yang bersifat politis-ekonomis, berakibat pada rendahnya mutu pendidikan dan kemunduran dunia Islam pada umumnya.[16]
Studi Islam pada dekade 2000-an mengalami pembatasan-pembatasan yang dilakukan oleh nalar saintifik Barat (sebagaimana terlihat dalam filologi) ketika diterapkan untuk kebudayaan-kebudayaan atau konsep-konsep asing di luar realitas Eropa Kristen dan peradaban Barat sekuler. Disiplin studi islam tetap hegemonik: ia selalu menekankan klasifikasi, kategori, definisi, distingsi, konsep-konsep, dan teori-teori tentang kebudayaan lain tanpa ketakutan akan kritik atau penolakan, kecuali barangkali tentang landasan-landasan polemik atau ideologis. Ini menjadi mungkin karena pada awal abad ke-21, dunia Muslim yang menjadi objek dari penelitian Studi Islam memproduksi pandangan konseptualnya sendiri tentang sejarah, kebudayaan, dan agama sehingga akan menentang perspektif hegemonik yang inheren dalam Studi Islam dan memaksanya untuk mengakui penafsiran alternative. [17]
Tantangan di era globalisasi menuntut respons tepat dan cepat dari sistem pendidikan Islam secara keseluruhan. Jika kaum Muslimin tidak hanya ingin sekedar survive di tengah persaingan global yang semakin tajam dan ketat, tetapi juga berharap mampu tampil di depan, maka re-orientasi pemikiran mengenai pendidikan Islam dan rekonstruksi sistem dan kelembagaan merupakan keniscayaan. Umat Islam tidak boleh berpangku tangan dan menonton dari seluruh perkembangan yang terjadi.[18]
Oleh karena itu penting bagi kajian islam untuk mengintegralkan dan menghilangkan dikotomi antara ilmu umum dan ilmu agama. Hal ini penting untuk memberikan landasan moral Islam terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, lingkungan hidup, sosial-ekonomi, sosial-budaya, sosial-politik dan sosial-keagamaan, sekaligus mengartikulasikan ajaran Islam sesuai dengan perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, humaniora dan sosial kontemporer, agar agama islam tidak semakin tertinggal dan bisa berjalan beriringan dengan kemajuan teknologi akibat dari perkembangan zaman yang ada.

F.     Penutup
Pengetahuan Islam sebaiknya dibuat dalam bentuk norma agar dapat diterima secara universal. Karena semua epistemologis berasal dari konsep yang universal. Maka mengandung nilai yang berlaku selamanya, dan menyangkut seluruh umat manusia. Pengetahuan islam, yang tidak dapat diaplikasikan pada kehidupan sosial manusia, yang tidak bermanfaat bagi dan tidak dapat di-sharing kepada pihak non-muslim, tidak bisa diberi label islam. Oleh karena itu, Perkembangan ilmu pengetahuan pada akhirnya menuntut para penggiat dunia akademis untuk terus melakukan perbaikan-perbaikan dan perubahan-perubahan dalam rangkan menyesuaiakan diri diera yang terus berkembang. Begitupun dalam bidang studi Islam, para akademisi studi Islam harus mampu menempatkan dirinya dalam rangka menghadapi perkembangan zaman yang terus mengalami perubahan dengan permasalahan-permasalahan yang semakin kompleks. Dalam rangka menjawab persoalan-persoalan tersebut, kajian studi Islam interdisipliner dipandang perlu dan menjadi hal yang sangat dibutuhkan untuk menjawab persoalan-persoalan yang terus berkembang ini.
Perkembangan tekonologi dengan kemajuannya di era disrupsi saat ini semakin memudahkan hidup manusia. Banyak hal bisa  terselesaikan dalam satu klik hanya dengan menggunakan smartphone saja. Tuntutan era millenial dibutuhkan juga kajian yang dapat membidik dari berbagai sudut sehingga akan mendapatkan pemahaman yang holistik dan komprehensif.
Untuk mendapatkan hasil pemahaman tersebut dalam kajian keislaman dibutuhkan tidak hanya satu pendekatan disiplin ilmu (monodisiplin). Penggunaan pendekatan antropologis, sosiologis, filosofis, hukum dan sebagainya secara bersama-sama (pendekatan interdisipliner) akan membuka fakta secara utuh tanpa ada potongan-potongan pemahaman yang tertinggal. Meskipun terkadang tidak dapat dipungkiri lagi bahwa antara pendekatan monodisiplin maupun interdisiplin tetap membawa karakteristik masing-masing sebagai ciri dan konsekuensi pilihan bagi orang yang menggunakannya.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Amin. 2010. Islamis Studies di Perguruan Tinggi.   Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Baidhawy Zakiyuddin. 2011.  Studi Islam Pendekatan dan Metode. Yogyakarta: Insan Madani

Chanifudin. 2016. Pendekatan Interdisipliner: Tata Kelola Pendidikan Islam di Tengah Kompleksitas. Jurnal (Edukasi Islami Jurnal Pendidikan Islam, Vol. 05, Januari 2016

Khoiriyah. 2013. Memahami Metodologi Studi Islam (Suatu Konsep tentang Seluk Beluk Pemahaman Ajaran Islam Studi Islam dan Isu-isu Kontemporer dalam Studi Islam). Yogyakarta: Teras

Mucharomah, Miftah. 2017. Guru di Era Milenia dalam Bingkai Rahmatan Lil Alamin. Jurnal Edukasia Islamika, Vol. 2, No. 2, 2017

Murniati, Uliana. 2017. Paper dipresentasikan dalam Hari Studi APTIK.
Nasution, Khoiruddin, dkk. 2013.  Islam, Agama-agama, dan Nilai Kemanusiaan: Festschrift Untuk M. Amin Abdullah. Yogyakarta: CISForm (Center for the Study of Islam and Social Transformation) UIN Sunan Kalijaga

Wahana, Heru Dwi. 2015. Pengaruh Nilai-nilai Budaya Generasi Millennial dan Budaya Sekolah Terhadap Ketahanan Individu: Studi di SMA Negeri 39, Cijantung, Jakarta. Jurnal Ketahanan Nasional, XXI 1April 2015

Zakiyuddin Baidhawy. 2010. Studi Islam: Pendekatan dan Metode. Yogyakarta: Insan Madani

Kompas, 24 September 2017


[1] Ziauddin Sardar, Merombak Pola Pikir Intelektual Muslim, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000, 48
[2] Edi Susanto, Dimensi Studi Islam Kontemporer , (Jakarta: Prenadamedia Group, 2016), hal 135
[3] Kompas, 24 September 2017
[4] Khoiriyah, Memahami Metodologi Studi Islam (Suatu Konsep tentang Seluk Beluk Pemahaman Ajaran Islam Studi Islam dan Isu-isu Kontemporer dalam Studi Islam), Yogyakarta: Teras, 2013, 19-20
[5] Zakiyuddin Baidhawy, Studi Islam Pendekatan dan Metode, Yogyakarta: Insan Madani, 2011, 2-3
[6] Zakiyuddin Baidhawy, Studi Islam Pendekatan dan Metode, Yogyakarta: Insan Madani, 2011, 6-7
[7] Nasution, Khoiruddin, dkk, Islam, Agama-agama, dan Nilai Kemanusiaan: Festschrift Untuk M. Amin Abdullah. Yogyakarta: CISForm (Center for the Study of Islam and Social Transformation) UIN Sunan Kalijaga, 2013, 199-120
[8] Zakiyuddin Baidhawy, Islamic Studies Pendekatan dan Metode, Yogyakarta: Insan Madani, 2011, hal 4
[9] Chanifudin, “Pendekatan Interdisipliner: Tata Kelola Pendidikan Islam di Tengah Kompleksitas”, (Edukasi Islami Jurnal Pendidikan Islam, Vol. 05, Januari 2016), 1286.
[11] Uliana Murniati, Paper dipresentasikan dalam Hari Studi APTIK, 2017, 2
[13] Uliana Murniati, Paper dipresentasikan dalam Hari Studi APTIK, 2017, 2
[14]Miftah Mucharomah, Guru di Era Milenia dalam Bingkai Rahmatan Lil Alamin, (Edukasia Islamika, Vol. 2, No. 2, 2017), hal 203
[15] Heru Dwi Wahana,“Pengaruh Nilai-nilai Budaya Generasi Millennial dan Budaya Sekolah Terhadap Ketahanan Individu: Studi di SMA Negeri 39, Cijantung, Jakarta”, (Jurnal Ketahanan Nasional, XXI 1),April 2015: 18
[16] Amin Abdullah, Islamis Studies di Perguruan Tinggi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010, 96
[17] Zakiyuddin Baidhawy, Studi Islam: Pendekatan dan Metode,  Yogyakarta: Insan Madani, 2010, 54-55
[18]Amin Abdullah, Islamis Studies di Perguruan Tinggi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010, 98-99

Tidak ada komentar:

Posting Komentar